Rabu, 28 Mei 2014

Mungkin Aku Sedang Lelah. Halah.

Beberapa hari ini aku uring-uringan.
Karena bapak, ibu, dan adek yang sedang pergi, ternyata meninggalkan 'urusan' di rumah.
Dari urusan yang simpel, nggak penting, dan sampai ke urusan yang tidak dilakukan segera, maka akan menimbulkan kematian (listrik).
Dan aku juga harus mengurus toko.
Jujur, aku nggak suka kalau harus mengurus toko.
Suka, kalau karyawannya bisa diajak kerja sama.
Nggak suka, kalau karyawannya nggak bisa diajak kerja sama, enaknya sendiri, berlagak putri, dan nggak mau kerja.
Aku pusing.
Aku yang selalu mengikuti kemauannya dia.
Tapi kerjanya nggak ada yang beres.
Sayangnya, dia anak tetanggaku.
Tetanggaku sebenarnya baik sekali.
Makanya kami mau menerima anaknya.
Tapi dia seperti itu.
Aku bilang pada ibu, kalau aku marah dan sudah nggak tahan.
Tapi ibu bilang kalau aku harus sabar.
Sabar.... dari Hongkong?
Gimana aku sabar mengatasi orang semacam itu?
Ibu juga menitipkan gajinya bulan ini padaku.
Dan kalau diingat-ingat, aku jadi sebal sendiri.
Mending duitnya buat aku, kutabung.
Daripada dikasih sama orang yang nggabut.
Dan aku meninggalkan toko tanpa bicara sedikit pun,
atau bahkan menoleh ke arahnya.
Karena aku marah.
Lalu, datang bulekku.
Menambah kebisingan pikiranku yang sudah bising.
Dia datang membawa urusannya bapakku.
Urusan yang jauh-jauh tidak ingin kuurus.
Urusan yang aku sama sekali nggak peduli.
Ya karena itu urusannya bapakku.
Tapi lagi-lagi karena bapakku nggak ada, aku jadi ikutan rempong.
Lalu karena amarahku sudah mendidih,
aku berteriak pada bulekku,
dua kali,
kemarin malam dan tadi pagi.
Dikiranya aku lagi berantem sama pacarku.
Sotoy lamongan!
Aku nggak punya pacar!
Aku makin emosi, kuusir dia dari rumah.
Harusnya nggak boleh ya.
Ya, aku tahu.
Tapi, dia berisik sekali.
Mungkin aku sedang lelah ya.
Aku menulis ini karena aku sedang membunuh waktu.
Di Kafe Coklat sendirian,
habis makan sama Mbak Aya.
Terus habis ini ngajar.
Karena masih ada waktu,
aku ke sini.
Gitu.

ja ne...

Selasa, 20 Mei 2014

Brunei yang (Mungkin) Belum Kalian Tahu

Dari beberapa tempat yang pernah kudatangi, aku bisa bilang kalau yang paling berkesan buatku adalah.....

Brunei Darussalam.

Serius.

Dan hari ini aku baru sadar kalau informasi yang kita punya tentang negeri kerajaan nan asik makmur dan kaya bianget itu..... sangat-sangat minim. Padahal, mereka itu tetangga kita ya. Berbatasan darat pula (hmm... Papua Nugini juga sih). Dan karena saking minimnya informasi itu, Brunei menjadi negara yang sangat menarik buatku dan akhirnya, aku diberi kesempatan bertandang ke sana tahun lalu.

Dan itu bikin aku ketagihan (?). Aku musti balik lagi ke sana pokoknya. Hahahaha. 

Nah, sekarang, aku mau berbagi kisah fakta (?) tentang negara yang kujuluki 'negeri dongeng' itu. Awalnya mau nulis ini di status, tapi bakal panjang kayaknya. Jadi aku nulis di sini aja ah. Hahaha.

Fakta pertama.
Ibu kota. Ibu kotanya adalah Bandar Seri Begawan.

Fakta kedua.
Luas negara. Luas negara Brunei 'cuma' 5.675 kilometer persegi (beda dikit lah sama Singgapur yang luasnya 710 kilometer persegi). Oh, jebulnya (?) lebih besar Brunei. Hahahahaha. Kemarin aku bilang sama temenku kalau lebih besar Singgapur, ternyata aku salah. Hahahahaha.

Fakta ketiga. 
Jumlah penduduk. Bandingkan ya dengan Singgapur yang luas negaranya segitu dan populasinya 5 juta-an. Lha, Brunei? Dengan negara seluas itu, penduduknya 'cuma'  406.200 orang (2009). Nggak heran kalau negara ini sepiiiiiiiiiiiiiiiiii-iiiiiiiiiiiii *lantunkan ala Iyeth Bustami*. Etnis mayoritas adalah Melayu, disusul oleh Chinese, dan lain-lain. Mayoritas penduduknya beragama Islam.

Fakta keempat.
Bahasa. Bahasa resmi mereka adalah bahasa Melayu dan Inggris. Untuk percakapan sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Melayu, tapi kalau sudah berhubungan dengan forum resmi, penulisan dokumen, dan lain-lain, mereka biasanya pakai bahasa Inggris. Oh ya betewe, bahasa Melayu mereka sikit berbeza dengan bahasa Melayu Malaysia.

Fakta kelima.
Transportasi umum. Yang suka travelling pasti tahu betapa pentingnya transportasi umum. Entah itu bis, taksi, kereta, ojek, becak, andong, tuk tuk, oplet, bajaj, dsb. Karena ada kalanya kita ndak mungkin to ya rental kendaraan pribadi. Tapi, pernah ngebayangin nggak kalau seandainya tempat yang kalian datangi itu, entah kota atau desa atau negara sekalipun, cari transportasi umumnya susahnya naudzubillah? Nah, ini dia yang kualami waktu di Brunei. Bisa bayangin kalau satu negara (catet. SATU NEGARA) itu armada taksinya berjumlah..................... tiga puluh satu unit! Ya, 31!  Yang mana kalau mau pesen taksi itu harus jauh-jauh hari sebelumnya dan katanya luar biasa muahal. Belum lagi bisnya katanya baru dateng dua jam sekali. Beruntung aku punya teman-teman yang luar biasa baik di sana, jadi ngandelin antar jemputnya mereka. Hohohohohoho. 

Fakta keenam.
Mobil. Masih ada hubungannya dengan fakta kelima ya, masalah transportasi. Orang Brunei identik dengan mobil karena hampir semuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa masyarakat Brunei punya mobil. Mirip dengan orang Jogja yang mayoritas punya motor. Nggak heran kalau transportasi umumnya sedikit. Lha wong mereka punya mobil. 

Fakta ketujuh.
Mall. Ciri-ciri (sebagian) orang Endonesa raya merdeka-merdeka, kalau pergi ke suatu tempat, pasti suka belanja. Ya to? To ya? Jangan dikira Brunei nggak punya mall. Oh, punya. Mall-nya ada........ tiga: The Mall (ada bioskopnya), Yayasan (Ya. Namanya Yayasan. Serius. Yayasan), dan satu lagi aku lupa namanya (kalau ada yang tahu bisa kasih tahu aku ya). Di ketiga mall itulah katanya muda-mudi Brunei yang gahol hang out sama temen-temennya.

Fakta kedelapan.
Mata uang. Mata uang Brunei adalah Dolar Brunei. Tapi orang sana nyebutnya ringgit. Mungkin ada pengaruh Malaysia-Malaysianya gitu ya. Dan lucunya, Dolar Singgapur laku di sana (Dolar Brunei, nilainya setara dengan Dolar Singgapur). 

Fakta kesembilan.
Sultan Brunei. Haha, harusnya ini ditaruh di awal. Tapi nggak papa. Sultan Brunei bernama lengkap Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah ibni Al-Marhum Sultan Haji Omar Ali Saifuddien Sa'adul Khairi Waddien. Panjang ya. Orang Brunei katanya harus hapal nama Beliau. Hehe. Sultan Hassanal Bolkiah adalah sultan yang super ultra wonderful delicious dicintai oleh rakyatnya. Yang aku kagumi adalah rakyatnya begitu *apa ya istilahnya* loyal kepada Beliau. Beliau ini naik tahta tahun 1967, waktu usianya masih 22 tahun. 
Ngomongin soal istananya, berbeda dengan Kraton Jogja yang bisa dikunjungi, istana Sultan ndak bisa dikunjungi. Tertutup. Cuma dibuka waktu lebaran, katanya.  

Fakta kesepuluh.
Indonesia. *Lah, Fi, bukannya kita ngomongin Brunei?*. Iya, aku tahu. Tapi ada hubungannya juga sama Indonesia. Sebagai orang Indonesia, bangga sekalilah aku ketika di sana. Bangga bahwa kita bisa mengekspor........ sinetron, film, dan musik. Hahahaha. Serius. Mereka juga nonton sinetron Indonesia ('Cinta Fitri' adalah favorit mereka. Hehehe), nonton film Indonesia, dan musik Indonesia. Waktu aku ke sana, Cakra Khan dengan 'Harus Terpisah'-nya lagi ngehits, booo'. Nggak heran juga ya kalau di lobi hotel disetelnya lagu-lagu Wali. Memang luar biasa sekali ya rumpun Melayu ini. Hahaha

Fakta kesebelas.
Film lokal. Brunei sudah memproduksi dua film lokal lho. Yang pertama berjudul 'Ada Apa dengan Rina' (2013). Ini mengingatkanku dengan film Indonesia 'Ada Apa dengan Cinta'. Hahaha. Aku bilang sama temanku orang Brunei kalau di Indonesia ada film yang judulnya hampir mirip. Dan jebulnya (?) mereka tau. Hohohoho. 
Film kedua baru rilis tahun ini. Film action tentang Pencak Silat. Judulnya 'Yasmine'. Yang main? Agus Kuncoro dan Reza Rahadian (kyaaa kyaa kyaaaaa!). Lihat teaser-nya di sini kalau penasaran. Teaser-nya bikin penasaran. Ketoke apik. Hahahahahaha.

Fakta kedua belas.
Kampong Ayer. Buka-buka arsip, rupanya aku pernah menulis tentang itu di sini. Sebagai gambaran aja, Kampong Ayer adalah pemukiman 'terapung' di atas sungai. Jangan dibayangkan kalau daerah ini adalah pemukiman kumuh. No no no. Big NO! Ini adalah pemukiman mewah. Segala fasilitas semuanya lengkap di sana. Ada sekolah, klinik, kantor pemadam kebakaran, pom bensin, kantor polisi. Semuanya lengkap. Dan sebagian besar terapung (maksudnya dibangun di atas air gitu loh). Transportasi andalan warga di sana adalah speedboat dan taksi-perahu. Dan nggak jauh dari sana ada batu luar biasa besar yang disebut 'Nahkida Manis'. Cerita-cerita folklor banyak di sana. Pokoknya kalau penasaran seperti apa Kampong Ayer, buka saja link yang sudah kubagi di awal bagian ini. Hahahaha.

Fakta ketiga belas.
Pendidikan. Temanku yang mahasiswa Universiti Brunei Darussalam (UBD) pernah bilang kalau mereka hanya diminta bayar sekitar lima ratus ribu rupiah kalau dikurs-kan. Luarrr biasa. Belum lagi, mereka masih dapet uang saku! Saking kayanya Sultan Brunei, sampai dibagi-bagikan begitu! Wedyaaaaaaan. Dan kalian tahu uang saku itu diapakan sama teman-temanku di sana? Buat beli gadget, hang out, dan seneng-seneng. *ngecesssss segalon*

Fakta keempat belas.
Penyebrang jalan. Waktu nyebrang jalan di Brunei, sempet was-was, tapi ternyata peraturan nyebrang jalannya ndak seketat Singgapur. Yang bikin aku takjub adalah waktu aku nyebrang, ada mobil yang lagi melintas ke arahku. Aku ragu-ragu mau nerusin jalan atau enggak. Lalu temanku bilang gini, "Udah jalan aja. Mobil-mobil itu bakal berhenti kok untuk kita". Saya nggak percaya. Tapi ternyata bener lho. Mobilnya berhenti beneran dan ngasih kesempatan buat kami nyebrang jalan. Ternyata memang aturannya gitu di Brunei: kendaraan harus ngalah sama penyebrang jalan. Kalau ngelanggar, SIM-nya bisa dicabut! Wuooooh! Makanya aku suka waktu aku di Brunei, nyebrang jalan jadi kayak raja. Hahahaha. Tapi sampai Jogja..... gitu deh :|

Fakta kelima belas.
Hari Jumat. Ada apa dengan hari Jumat? Iya, jadi hari Jumat itu buat orang Brunei 'spesial'. Aku cukup kaget waktu jam sebelasan pagi gitu ya mau cari makan. Rencananya mau pakai mobil hotel. Bilang dong kami sama resepsionis hotel. Eh, diketawain. Mereka bilang gini, "Seluruh kedai tu bercuti berkenaan dengan sholat Jumaat dari masa 11 hingga 2. Tak ada aktiviti" ("Semua toko itu tutup karena sholat Jumat, dari pukul 11 sampai pukul 2. Nggak ada aktivitas"). Jadi ya bisa dibayangkan kami sekeluarga cengok di hari Jumat itu dari jam 11 sampai jam dua siang. Hahahaha.

Fakta keenam belas.
Toko/kedai. Mereka nyebut toko itu 'kedai'. Bagi kita yang dimanjakan dengan jam buka toko yang awal banget dan tutup malem banget atau yang sudah terbiasa dengan convenience store 24 jam, bersabarlah ketika di Brunei. Di sana, waktu aku ke sana, ndak ada itu Seven Eleven atau semacamnya yang buka sampai 24 jam. Semua toko di sana ya buka serentak jam 9 pagi dan tutup jam 8-9 malam. Bahkan ada yang tutup pas Magrib. Soalnya, begitu masuk Magrib, kota jadi mendadak sepi di sana. Hahahaha. 

Sebenernya mau nerusin sampai fakta keseratus sih. Tapi udah kehabisan ide dan capek ngetik. Hahahaha. Yang penasaran sama Brunei sila bertandang ke sana jika ada waktu dan rezeki. Karena negara itu sangat cantik dan homy banget. Semoga bisa jadi referensi alternatif liburan buat kalian. Dan semoga saja yang sudah baca ini, nggak ada lagi yang bilang, "Aku nggak ngerti Brunei sama sekali. Nggak ada bayangan". Brunei itu menarik lho. Coba kalian lihat dari sudut pandang lain deh. Jangan cuma melulu soal belanja. Di sana, kalian akan menemukan harta karun terpendam dari sebuah kerajaan yang sangat kaya raja bak negeri dongeng. Percaya, deh. 

Sumber:
http://www.pmo.gov.bn/Pages/AboutBrunei.aspx
http://en.wikipedia.org/wiki/Brunei
en.wikipedia.org/wiki/Singapore
www.imdb.com/title/tt2829176/
http://girltalkhq.com/first-feature-film-from-brunei-yasmine-was-directed-by-a-woman/
http://www.thejakartaglobe.com/features/bruneis-first-feature-film-calls-on-indonesian-stars/
http://www.youtube.com/watch?v=0eqE8aW2ndU

ja ne...

Sabtu, 17 Mei 2014

Ini Bukan Dunia Guweh, Deh

Hai.

Baruuuu aja kemarin ini ada pemilihan duta wisata di Sleman. Ada beberapa orang yang saya kenal yang ikut di dalamnya. Yaa, mereka emang kece, sih. Dan entah kenapa, kali ini saya jadi tertarik menulis tentang duta-dutaan atau kontes-kontes semacamnya. Entah itu duta wisata, duta budaya, duta *ehem* bahasa *ehem*, duta mahasiswa, duta museum (serius! ada! Nggak percaya? Tanya teman saya sana), Duta Sheila On 7, Duta Minang…. Oke, yang dua terakhir ini agak ngaco, abaikan saja. Pokoknya yang ada embel-embelnya “Duta…” atau “Ambassador…” atau “Miss…” atau “Putra Putri…”.
Saya nggak memungkiri, sih kalau saya juga pernah kepeleset di dalamnya *macak ayu* (mau menulis ‘terjerumus’, takutnya konotasinya negatif. Jadi pakai istilah ‘kepeleset’ aja). Dan saya jadi kadang agak malu-malu dan berat mengakuinya *halah*.  

Karena ini mau nggak mau menyangkut saya juga, saya pingin cerita sedikit soal saya yang kepeleset di dunia per-duta-an itu.

Well, tahun lalu, entah salju sedang turun sangat banyak atau angin yang terlalu kencang berhembus (?), saya ikut suatu kontes: pemilihan Duta….Bahasa. Ajaibnya, saya masuk lima besar. Ketawa dulu, yuk. Ha-ha-ha-ha.  

Teman-teman saya kaget.

Keluarga saya kaget.

Orang tua saya kaget.

Saya, nyaris semaput.

Dan bagi saya (dan orang-orang yang mengenal saya dengan baik), ini nggak Fia banget. Dengan segala keabsurdan yang ada di dalam diri saya, ada kesan ‘nggak mungkin’ saya ikut kontes semacam ini: didandani dengan pakaian Jawa, menjawab pertanyaan juri, dan blablablablabla.

Terima saja, ini sudah takdir dan rezeki. Hehehehe.

Dan saya ikut kontes itu pun ada campur tangan sahabat saya yang sudah malang melintang di dunia per-duta-an. Saya dapat segala info, dinamika dunia per-duta-an juga dari dia. Dari situ, saya tertarik. Untuk ‘melihat’ kehidupan yang berwarna-warni nan terang benderang di dunia itu dan tentu saja, bukan untuk terjun di dalamnya.

Saya sadar (diri), di samping ukuran tubuh saya yang minim (tinggi badan ya yang minim, bukan berat badan. Puhlis ya. Hahaha), kontes semacam ini dan kehidupan di dalamnya, pokoknya semuanya, itu bukan dunia saya. Setiap orang, menurut saya, punya sesuatu yang ketika terjun ke dalamnya atau masuk ke dalamnya, merasa “Ini dunia gueeeee….”. Misalnya, gampangnya gini, saya belajar bahasa Jepang karena saya suka bahasa Jepang. Lalu, ketika mahasiswa, saya sering ditawari ngajar bahasa Jepang. Nah, dari situ saya mulai suka ngajar, membagi pengetahuan yang saya punya dengan orang lain. Dan saya pun akhirnya mulai menemukan ‘dunia gue’ di bidang pengajaran bahasa Jepang.

Paham, nggak?

Ya udah, kalau nggak paham nggak papa. Saya juga bingung neranginnya. Hahaha. Pokoknya gitu deh: dunia per-duta-an itu bukan dunia saya, meski saya juga bersyukur dapat teman yang asik nan absurd di kontes duta bahasa itu. Yaa, sebenarnya juga bukan dari faktor orang-orang yang ada di dalamnya. Saya nggak masalah dengan mereka yang hobi ikut kontes seperti itu. Saya salut malah. Mereka hebat. Berpengetahuan luas dan berpenampilan menarik. Udah ganteng-ganteng, cantik-cantik, pintar pula.
Hanya saja, jangan berharap saya ikut kontes semacam itu lagi. Saya nggak ketagihan ikut kontes semacam itu, nggak seperti yang lainnya, habis ikut Pemilihan Duta A, terus ikut ke Pemilihan Putra Putri B, eh nggak lama habis itu dia loncat ke Pemilihan Miss/Mister C.

Sekali lagi, yang seperti itu bukan ‘dunia gue’.

Agak sedikit (?) susah memang menjelaskan tentang ‘dunia gue’ tadi. Jadi ya akhirnya ngambang gini. Nggak ada klimaks dan penyelesaiannya. Tapi kalau kalian mengenal saya, saya yakin kalian bakal paham dengan maksud saya. Ya kan? Hahaha.


ja ne...

Sabtu, 03 Mei 2014

Kecantikan Itu Bisa Menipu

Dicomot dari google.com
Cantik ya? Warna-warni, terus bulet-bulet gitu. Saya ramalkeun ini bakal sama nge-hits-nya dengan rainbow cake beberapa waktu lalu (atau memang sudah nge-hits, ya? Ah ya maap, sini kurang gahol. Hahahaha).

Namanya Macaron. Awalnya saya pikir ini Macaron...i. Habisnya namanya mirip. Maka ketika sepupu saya menawarkan Macaron ini pada saya, ya, saya pikir ini Macaroni. Hahahaha. Ternyata beda. Banget. Asalnya juga beda. Kalau macaroni asalnya dari Italia, kalau macaron dari Prancis. Macaron ini dibuat dari telur, ada almond juga, pewarna makanan, gula, gula, gula, gula, gula, gula, gula, gula, gula, dan gula. Kenapa saya nyebut 'gula'-nya sampai beberapa kali? Nanti saya cerita. Hahahaha.

Di Indonesia rupanya macaron ini mulai populer. Entah sejak kapan, lha buktinya mulai banyak toko roti yang menjual macaron. Bahkan macaron ini juga dibikin versi kue, terutama kue ultah (soalnya sepupu saya ribut ngomongin kue ultahnya dia yang mau ditempelin macaron. Haha). Nah, beberapa hari yang lalu, saya yang tahunya ada manisan (?) bernama macaron dari sepupu saya itu, akhirnya nyobain makan macaron dari kue ultahnya dia. Cuman sebutir, memang. Tapi itu benar-benar mengubah hidup saya (halaaaah. Lebay alay melambay lu, Fi!) karena sampai-sampai saya tuangkan ke dalam blog ini. Hahahaha.

Saya coba dari gigitan pertama. Keras. Printilan-printilan gula yang ada di lapisan atas macaron malah yang memenuhi mulut saya terlebih dahulu. Kepala saya langsung bereaksi. MUANISSSSSS!
(ya makanya saya nyebut 'gula' beberapa kali di awal tadi. hahaha)

Itu baru gigitan pertama lho. Kalau ada kamera tersembunyi di dekat saya, saya mau menatap ke arah kamera itu dan melambaikan tangan. Nyerah.

Itu adalah makanan termanis yang pernah saya makan di dunia ini. Edyan, manis banget.
Manis
Manis
Manis
Manis
Manis
Manis
Maniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiis!!!!

Saya langsung megap-megap, mau teriak, "Aiiiiir.... Aiiiiiir... Aiiiiiir", tapi nggak bisa, saking tenggorokan saya yang syok kedapetan makanan semanis itu. Tapi kadung sayang, saya sudah megang makanan itu dan saya melihat kondisi sekitar, adik dan ibu saya tidak ada tanda-tanda akan membantu saya dalam menghabiskan sebutir macaron yang masih sisa 3/4 itu. Ya, saya harus berjuang sendirian untuk menghabiskannya. Semangat, Fia! Semangat! Kamu pasti bisa! Bayangkan saja kalau kamu sedang ikut salah satu misi Running Man! *halaaaah*

Dan akhirnya, setelah berjuang beberapa lama, akhirnya saya bisa menghabiskannya. Rasa mbleneg langsung memenuhi perut saya. Nggaaaaaaaak lagi-lagi saya makan macaron. Bisa gawat nanti kalau saya obesitas dan kena diabetes. Padahal sebenernya saya suka makanan manis lho. Tapi, ini adalah pengecualian. Kecantikan fisik macaron berhasil menipu saya. Hih.

Buat kalian yang bisa dan malah suka makan macaron, saya kasih ucapan selamat. Kalian hebat! Kalian adalah generasi penerus bangsa yang mumpuni, begitu potensial! Lanjutkan!

(sepanjang nulis ini saya nggak berhenti-berhenti mengernyitkan dahi. Rasa macaron yang begitu aduhai itu seolah datang kembali ke mulut saya. Haha)
  
ja ne...