Sabtu, 03 Mei 2014

Kecantikan Itu Bisa Menipu

Dicomot dari google.com
Cantik ya? Warna-warni, terus bulet-bulet gitu. Saya ramalkeun ini bakal sama nge-hits-nya dengan rainbow cake beberapa waktu lalu (atau memang sudah nge-hits, ya? Ah ya maap, sini kurang gahol. Hahahaha).

Namanya Macaron. Awalnya saya pikir ini Macaron...i. Habisnya namanya mirip. Maka ketika sepupu saya menawarkan Macaron ini pada saya, ya, saya pikir ini Macaroni. Hahahaha. Ternyata beda. Banget. Asalnya juga beda. Kalau macaroni asalnya dari Italia, kalau macaron dari Prancis. Macaron ini dibuat dari telur, ada almond juga, pewarna makanan, gula, gula, gula, gula, gula, gula, gula, gula, gula, dan gula. Kenapa saya nyebut 'gula'-nya sampai beberapa kali? Nanti saya cerita. Hahahaha.

Di Indonesia rupanya macaron ini mulai populer. Entah sejak kapan, lha buktinya mulai banyak toko roti yang menjual macaron. Bahkan macaron ini juga dibikin versi kue, terutama kue ultah (soalnya sepupu saya ribut ngomongin kue ultahnya dia yang mau ditempelin macaron. Haha). Nah, beberapa hari yang lalu, saya yang tahunya ada manisan (?) bernama macaron dari sepupu saya itu, akhirnya nyobain makan macaron dari kue ultahnya dia. Cuman sebutir, memang. Tapi itu benar-benar mengubah hidup saya (halaaaah. Lebay alay melambay lu, Fi!) karena sampai-sampai saya tuangkan ke dalam blog ini. Hahahaha.

Saya coba dari gigitan pertama. Keras. Printilan-printilan gula yang ada di lapisan atas macaron malah yang memenuhi mulut saya terlebih dahulu. Kepala saya langsung bereaksi. MUANISSSSSS!
(ya makanya saya nyebut 'gula' beberapa kali di awal tadi. hahaha)

Itu baru gigitan pertama lho. Kalau ada kamera tersembunyi di dekat saya, saya mau menatap ke arah kamera itu dan melambaikan tangan. Nyerah.

Itu adalah makanan termanis yang pernah saya makan di dunia ini. Edyan, manis banget.
Manis
Manis
Manis
Manis
Manis
Manis
Maniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiis!!!!

Saya langsung megap-megap, mau teriak, "Aiiiiir.... Aiiiiiir... Aiiiiiir", tapi nggak bisa, saking tenggorokan saya yang syok kedapetan makanan semanis itu. Tapi kadung sayang, saya sudah megang makanan itu dan saya melihat kondisi sekitar, adik dan ibu saya tidak ada tanda-tanda akan membantu saya dalam menghabiskan sebutir macaron yang masih sisa 3/4 itu. Ya, saya harus berjuang sendirian untuk menghabiskannya. Semangat, Fia! Semangat! Kamu pasti bisa! Bayangkan saja kalau kamu sedang ikut salah satu misi Running Man! *halaaaah*

Dan akhirnya, setelah berjuang beberapa lama, akhirnya saya bisa menghabiskannya. Rasa mbleneg langsung memenuhi perut saya. Nggaaaaaaaak lagi-lagi saya makan macaron. Bisa gawat nanti kalau saya obesitas dan kena diabetes. Padahal sebenernya saya suka makanan manis lho. Tapi, ini adalah pengecualian. Kecantikan fisik macaron berhasil menipu saya. Hih.

Buat kalian yang bisa dan malah suka makan macaron, saya kasih ucapan selamat. Kalian hebat! Kalian adalah generasi penerus bangsa yang mumpuni, begitu potensial! Lanjutkan!

(sepanjang nulis ini saya nggak berhenti-berhenti mengernyitkan dahi. Rasa macaron yang begitu aduhai itu seolah datang kembali ke mulut saya. Haha)
  
ja ne...

Tidak ada komentar: