Kamis, 22 September 2016

Manajemen Keuangan (Beasiswa) ala Fia

Ketika saya pulang ke Jogja beberapa minggu lalu, beberapa kerabat terheran-heran pada saya. Kenapa bisa sering pulang?
Bukankah tiket pesawat itu juga nggak murah?
Dan apa pula itu sampai bisa-bisanya nonton konser boyband Korea di Jepang? 

Fia boros ya?

Ya memang. Saya ini boros orangnya. Saya ini paling nggak bisa berhemat. Di Indonesia, saya nggak bisa nabung. Beneran. Hobi saya di Jogja itu jajan, karaoke, jajan, karaoke. Hahahaha. Orang tua dan adek saya sampai geleng-geleng lihat gaya hidup saya. Parah lah. Sampai akhirnya, tahun lalu saya mulai tinggal sendiri, merantau, di negara orang pula. Waktu itu, saya bertekad akan belajar untuk hemat. Fia harus hemat! Hemat boleh, pelit jangan. Itu motto saya waktu itu.
Hasilnya?
Tetep nggak bisa hemat T_T. 

Padahal di enam bulan pertama saya di Jepang, saya nggak punya pegangan finansial lain selain duit beasiswa. Beasiswa dari pemerintah(nya negara orang). Pun pada saat itu saya nggak (mau) part time. Meski jika dibilang, uang beasiswa yang saya punya lumayan banyak dan suer, saya belum pernah pegang uang sebanyak itu di rekening saya (146.000 yen!), seumur hidup saya. Saya kaget dan kalap. Enam bulan awal masa hidup saya di Jepang, keuangan saya amburadul. Saya hanya bisa menyisakan sedikit sekali uang di rekening saya setiap akhir bulan. Itu kan parah namanya. Lalu saya kalut (?), berbagai hal mulai berkecamuk di kepala saya:

Saya nggak bisa gini terus.
Saya harus bisa nabung untuk jaga-jaga.
Saya harus memikirkan masa depan saya.
Saya harus nyicil modal nikah (?).

Setelah berdiskusi (baca: curhat) dengan beberapa kawan dan melihat kenyataan diri sendiri yang begitu parah, akhirnya saya bikin suatu strategi. Strategi manajemen keuangan ala saya. Meski dalam kenyataannya masih sedikit amburadul, tapi masih mending lah daripada dulu-dulu sebelum saya menyadari kekhilafan saya. Dan di sini, saya mau berbagi pengalaman dalam mengatur keuangan saya. Tapi tetap, saya nggak bisa menjanjikan ini bisa cocok untuk orang lain karena kondisi setiap orang pasti berbeda-beda. Sekali lagi, saya nggak bisa menjamin 100% yang saya lakukan ini bisa juga dilakukan oleh orang lain. Silakan jika ingin menjadikan ini sebagai referensi, tapi saya tidak bisa mengatakan ini sebagai 'tips'. Ini murni pengalaman saya: terms and conditions apply. Dan ini adalah kondisi saya: (1) single, (2) tinggal di daerah dengan biaya hidup tidak semahal Tokyo, (3) dapat beasiswa pemerintah Jepang, (4) tinggal di asrama kampus dengan biaya sewa tidak semahal apartemen (apato), (5) belakangan dapat part time, (6) saya tidak perlu membayar tuition fee karena sudah dibayarkan oleh pihak pemberi beasiswa.

Sampai di sini, kalau ada yang berpikiran, "Wah Fia enak ya mapan banget secara finansial di Jepang", serius deh, sebanyak apapun uang yang kita punya, tapi kalau manajemen keuangannya buruk, nak yo podho wae mas, mbak. Nah, saya nggak mau jadi orang yang keblondrok. Makanya itu, saya bikin strategi sendiri.

Jadi, sejak di Jepang tahun lalu hingga sekarang, saya selalu mengikuti perkataan ibu saya: semua pengeluaran harus dicatat. Cuma jajan es teh di warung sebelah atau nyuci di laundry koin asrama, semuanya saya catat. Struk yang saya dapat dalam satu hari, saya kumpulkan jadi satu, lalu saya tulis di buku pengeluaran (yes! saya punya buku anggaran sendiri. Emak-emak banget -_-). Biaya telepon dan internet kamar yang dipotong dari rekening pun saya catat. Lalu di akhir bulan, saya rekapitulasi semua. Dengan begitu, ketahuan lah itu pengeluaran-pengeluaran yang lebay.

Dan ternyata, meskipun saya sudah mencatat semua pengeluaran saya, tetep saja masih kecolongan. Pengeluaran yang nggak penting masih ada di sana-sini. Saya dengan mudahnya narik uang di ATM karena berpikiran, "Ah udah sih, pasti masih ada uang di situ", sampai suatu hari, tanpa sadar, uang saya nyaris habis di ATM. Ini beneran! Lalu saya berpikir bahwa hanya punya satu rekening bank tidak cukup. Ya, semua uang beasiswa langsung ditransfer ke rekening saya di bank milik kantor pos Jepang (JP Post/ Yucho). Wah kalau hanya punya satu rekening, nggak bisa nabung nih, pikir saya. Lalu setelah mikir beberapa saat, saya memutuskan untuk membuat rekening baru di bank komersial. Tujuannya buat menyimpan uang tabungan. Dan entah ini kebetulan atau enggak, tapi kok ya bank komersial yang saya pilih itu ATM-nya juaraaaaaaang buanget. Ini antara bagus dan nggak bagus sih. Bagusnya adalah saya harus mikir-mikir dulu kalau mau narik duit pakai ATM bank komersial itu. Jadi nggak bisa seenaknya sendiri. Nggak bagusnya ya, kalau pas kefefet dan harus narik ATM dari bank itu dan pas nggak nemu ATM yang dimaksud, ya mau nggak mau harus pakai ATM Bersama (?) di minimarket atau pakai ATM bank lain. Itu artinya kena charge lebih. Dan kalau weekend, bank komersial yang saya pakai itu menerapkan charge lebih setiap penarikan tunai di ATM-nya sendiri. Ha-ha-ha-ha. Jadi beneran harus mikir ulang dua kali untuk macem-macemin duit saya di bank itu.

Nah, setelah buat rekening baru di bank lain, saya putar otak gimana caranya bisa menabung. Akhirnya, saya menerapkan sistem begini: semua pengeluaran wajib (biaya sewa asrama, listrik, air dan gas), saya bayar sesaat setelah uang beasiswa turun. Kenapa demikian? Saya pernah punya pengalaman hampir nggak bisa bayar asrama saking borosnya. Jatuh tempo pembayaran asrama saya adalah tanggal 20 tiap bulan. Karena saya pikir waktunya masih panjang, ya udah, uang beasiswa saya pakai untuk pengeluaran lain. Nah ini yang salah ternyata, buat saya. Jadi pokoknya semua 'pengeluaran wajib' itu saya keluarkan dulu semuanya. Biar hati senang, galau jadi hilang. Hahahaha.

Lalu, setelah semua pengeluaran wajib itu beres, saya baru bisa nabung. Nabung kok di awal? Ya, saudara-saudara. Saya selalu berusaha menyisihkan uang tabungan setelah semua pengeluaran wajib saya beres. Saya pernah mendengar dari beberapa penasehat keuangan bahwa menabung yang 'baik' adalah dengan menyisihkan uang tabungan sesaat setelah kita mendapatkan gaji, bukan setelah akhir bulan --sebelum kita mendapatkan gaji--. Itu yang saya lihat di TV. Hehehe.

Jadi, ini yang saya lakukan setiap bulan: begitu uang beasiswa turun --yang 146.000 yen itu--, saya ambil sekitar 30.000 yen untuk pengeluaran wajib. Masih sisa 116.000 kan, saya ambil lagi itu 36.000 yen untuk menabung. Sisanya tinggal 80.000 yen kan. Iya sengaja. Saya selalu menyisakan 80.000 yen di rekening JP Post saya. Itu untuk apa? Ya untuk hidup saya sehari-hari selama sebulan di Jepang. Pokoknya 80.000 itu harus cukup buat saya untuk makan, hore-hore, dan bayar tagihan hape dan internet kamar. Ya, bayar tagihan hape dan internet langsung dipotong di rekening saya. Cukup? Dicukup-cukupin. Jadi beneran rekening JP Post saya itu hanya untuk keperluan hidup sehari-hari. Kalau ditotal bersih --dipotong tagihan hape dan internet kamar 15.000 yen-- saya hanya menggunakan sekitar 65.000 yen dalam sebulan. Haram hukumnya buat saya sendiri untuk mengotak-atik rekening saya di bank lain itu. Hahahaha.

Dan percaya sama saya. 65.000 yen itu kadang masih sisa lho. Hahahaha.

O ya karena saya hanya menggunakan JP Post untuk duit beasiswa, semua honor part time saya ditransfer ke rekening bank komersial saya. Jadi, honor part time itu termasuk golongan (?) tabungan buat saya.

Ah lupa. Ada satu lagi. Saya ini aslinya nggak suka banget sama uang koin. Ribet makenya dan nggak praktis. Berat pula. Dan karena di Jepang buanyak buanget uang koin (1 yen, 5 yen, 10 yen, 50 yen, 100 yen, dan 500 yen) dan dilihat dari nilainya 500 yen itu yang paling besar dan jarang saya pake, akhirnya saya memutuskan untuk punya celengan khusus 500 yen di asrama. Serius deh. Asik banget ini. Karena tanpa sadar bisa tahu-tahu udah banyak, bisa buat alternatif tabungan juga ^^.

Jadi begitu saudara-saudara. Kalau melihat saya kok sempet-sempetnya main ngebolang ke mana-mana, nonton konser, atau bahkan pulang ke Jogja, itu murni karena saya menggunakan sistem ala-ala di atas. Sistem manajemen keuangan amatir ala saya ini. Dengan kondisi dan situasi yang sudah saya jelaskan tadi. Dan ya, saya masih boros. Hahahaha. Dan tentu saja, cara saya di atas ada kemungkinan untuk berubah. Hehehehe.

Itu tadi pengalaman saya tentang bagaimana mengatur keuangan saya selama di Jepang. Dan mungkin kalian sendiri juga punya cara mengatur keuangan sendiri ya ^^

PS: Kurs JPY - Beli: 128; Jual: 130,50 (per 21 September 2016 15:49. Sumber: Mulia Bumi Arta)

Jumat, 29 April 2016

UNIVERSAL STUDIO JAPAN!

Liburan musim semi kemarin, saya diajak Su, teman dari Thai, partner mbolang saya, ke Universal Studio Japan di Osaka. USJ, brooo! Hahaha.

Kami berangkat dari stasiun Kintetsu Nara. Dari sana, turun di stasiun Tsuruhashi. Dari Tsuruhashi, naik kereta lokal dan turun di stasiun USJ. Perjalanan sekitar sejam setengah. Nggak jauh-jauh banget kan ya >_<

Bola Hits. Tapi sebenernya biasa aja nggak seheboh yang di Singgapur
Lalu oleh Su, yang pernah ke USJ, saya disarankan untuk beli tiket annual pass alias tahunan. Mau dipakai berapa kali pun ya nggak usah beli tiket lagi. Saya mikir-mikir, iya juga ya. Akhirnya saya beli tiket annual pass, 12 ribu yen atau 1,3 juta rupiah >_< (bandingkan dengan tiket sekali masuk yang seharga 8000-an yen atau sekitar 800ribu rupiah)

Setelah mengurus sistem administrasi tiket annual pass saya (yang tidak bisa dipindahtangankan karena ada foto saya di sistemnya), saya dan Su langsung lari-lari kecil ke wahana Harry Potter, wahana paling hits di USJ. Tapi bukan untuk masuk wahana, melainkan 'pesan' tiket. Mau masuk jam berapa. Alhamdulillah, saya dan Su masih dapat tiket untuk sesi jam 1 siang (well, kami sampai di sana jam setengah 11). Menurut cerita yang pernah saya dengar, banyak yang tidak seberuntung kami lho. Pesen tiket jam 11, tapi baru bisa masuk wahana jam 4 sore! Gile!

Sambil membunuh waktu, Su mengajak saya ke wahana Attack on Titan 4-D. Well, sebenernya saya nggak baca komik ataupun nonton animenya. Pernah baca satu chapter komiknya dan yaaaa langsung saya hentikan karena mual-mual >_<. Saya bayanginnya ini wahana kayak wahana Shrek 4-D di US Singgapur. Iya memang. Tapi yang ini lebih seru, lebih menegangkan, dan yang pasti lebih bikin mual-mual. Saya tidak menyarankan anak kecil untuk naik wahana ini. Antrean untuk masuk wahana ini yang paling ramah waktu itu, 'cuma' satu setengah jam.



That's too real!!! The Titan's eyes was rolling!!!


Setelah wahana Attack on Titan yang lumayan nggilani itu, kami akhirnya jalan ke wahana Harry Potter. Sudah. Saya nggak mau cerita panjang di sini. Kalian lihat fotonya aja :p. Watch out, Potterheads!




Hogsmeade!!!!



Tokonya si kembar. Saya beli coklat kodok di sini. Enak dan gede banget! Seminggu nggak habis-habis :p

HOGWARTSSSSS!!!! Ada wahana seru di sini. Nah, di sini saya baru antre 3 jam :p

We want Viktor Krum and Flour Delacour!

Setelah terkagum-kagum dengan wahana Harry Potter yang luar biasa itu, kami akhirnya milih wahana lain. Kami kepengen naik wahana Kyary Pamyu Pamyu (naik wahananya, bukan naik Kyary-chan >_<), tapi antreannya nggilani. 


Siapa yang tidak suka dengan Kyary-chan >_<

Lalu kami beralih ke jet koster, lagi-lagi antreannya nggilani. Akhirnya ya kami ke wahana Amazing Spiderman yang nggak nggilani. Tapi tetep bagus kok :).


XD
Dan perjalanan kami berpetualang di USJ pun berakhir. Karena USJ-nya sudah mau tutup XD. Tutup jam 7 malam kalau nggak salah (hih! Disneyland Tokyo aja jam 10!). 
Intinya, ke USJ sehari??? Kuraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang! Hahahahahaha


Pergi ke Dokter Gigi di Jepang (Part 2?)

Note: Postingan ini lagi-lagi saya ambil dari akun media sosial saya. Hahaha. Saya semalam (28 April) nulis ini di akun Path saya. Ini adalah cerita dari pertemuan kelima di dokter gigi. 

Dokter gigi cantik itu senyum-senyum, tetapi tiba-tiba mukanya serius. Wah ada yang nggak beres ini, batin saya.

"Jadi gini, Mbak Alifia", katanya memulai pembicaraan. Ditunjukkannya rontgent mulut yang pernah saya lakukan dulu sekali. Saya  mulai tegang.

"Gigi kamu yang tumbuh ada dua kan. Dan sama-sama posisinya nggak bagus. Meski yang kanan itu posisinya rebahan, saya masih belum terlalu khawatir, bisa kita bicarakan nanti. Nah kalau yang kiri....", tangannya menunjuk gambar gigi bungsu saya. "...saya khawatir  ini beresiko tinggi kalau dicabut. Karena posisinya dekat sekali dengan gigi di sebelahnya dan ini lho...saraf. Mau nggak mau kalau dicabut nanti bersisa. Dan itu yang bahaya. Kalau pun nggak dicabut juga bahaya".

"La...lalu baiknya gimana, Dok?" tanya saya yang sudah mencelos hatinya, badan saya secara otomatis melorot di kursi pemeriksaan.

"Kita perlu observasi yang lebih mendalam. Baru nanti bisa diputuskan sebaiknya gimana. Sayangnya di klinik ini belum ada peralatan yang canggih buat observasi kamu. Nanti saya akan rujuk kamu ke klinik di Saidaiji. Tau Saidaiji kan?". Saya mengangguk.

"Saya mau secepatnya, dokter", kata saya  memelas.

"Baik, nanti saya buatkan janji sama klinik di sana ya", katanya mulai ramah lagi.

Badan saya lemes seketika.

Buat orang yang belum pernah nambal gigi, gigi bolong, dan bermasalah sama gigi seumur hidupnya, seperti saya, ini luar biasa............bikin merindingnya.

Lalu di lab, saya bertanya pada kawan orang Jepang.

Me: "Pernah cabut gigi?"
Her: "Pernah, pernah."
Me: "Berapa ya harganya? Masih inget nggak?"
Her: "Nggak nyampe sejuta kok. Nggak semahal itu. Kamu di-cover BPJS* kan?"
Me: "Iya sih..."
Her: "Eh tapi sakit banget lho...."
Me: " ............"

*BPJS maksudnya Asuransi Negara Jepang ehehehe

Ah tauk ah. Nge-golden week sikik wae lah.

Baca juga: Pergi ke Dokter Gigi di Jepang (Part 1?)

Pergi ke Dokter Gigi di Jepang (Part 1?)

Note: Tulisan ini pernah saya posting sebagai status di akun Facebook saya, tertanggal 24 Februari 2016. Saya sunting di sana sini, supaya lebih enak dibaca (?)

PERGI KE DOKTER GIGI DI JEPANG
(Judulnya ala-ala banget)

Di Indonesia, saya juarang buanget ke dokter gigi. Karena saya nggak gitu suka alat-alat dan suara berdesing yg memekakkan telinga yg dimasukkan ke mulut saya. Hiiii.... Terakhir ke dokter gigi pas setahun lalu. Karena gigi saya tumbuh (yang kemudian 'to be continued' sampai saya di Jepang). Lalu oleh dokter gigi di Indonesia, katanya "Enam bulan lagi ke sini ya Mbak. Mau itu giginya udah besar atau tetap kecil terus. Mau itu giginya nggak sakit sekalipun, ke sini ya, supaya nanti ada tindakan selanjutnya". Yg tidak saya tindak lanjuti karena memang nggak ada keluhan apapun (dan males ke dokter gigi haha).

Bulan Februari lalu, saya kena batunya. Gigi baru saya tiba-tiba sudah besar dan posisinya ngga nyantai. Nggak sakit sih, hanya tidak nyaman. Dan mulai tumbuh sariawan di sekitar gigi itu. Wah, bahaya nih, pikir saya. Akhirnya saya memutuskan ke dokter gigi dekat kampus. Berbekal tanya kawan dan searching di internet tentang pengalaman orang Indonesia yang pernah ke dokter gigi di Jepang, saya akhirnya memberanikan diri. Terlebih di salah satu blog yang saya baca, ada yang menulis gini, "Rugi lho kalau belum pernah ke dokter gigi di Jepang". Ya udah, bismillah saja.

Sampai di klinik itu, saya disambut tiga perawat cantik yang super ramah. Salah satunya meminta saya menunjukkan kartu asuransi negara (kartu mahasakti pemberian pemerintah Jepang yang wajib dimiliki oleh segenap manusia yang tinggal di muka bumi Jepang --semacam BPJS--). Kemudian saya diberi formulir (semacam angket) yang perlu diisi sehubungan dengan kondisi saya: sakitnya di mana, di gigi sebelah mana, setiap hari sikat gigi berapa kali, tiap sikat gigi berapa menit, tidur berapa jam tiap malem. Hahahaha. Serius. Kliniknya pun nyaman, meski kecil. Hangat dan sayup-sayup diputar lagu nina bobok, yang dijamin deh kalau setengah jam saya disuruh nunggu di situ, wis tak tinggal tidur. Hahaha 😂. Setelah itu, saya dipanggil dan diperiksa. Oleh perawat. Bukan dokter. Begitu melihat gigi saya, sang perawat langsung menyarankan saya untuk di-rontgent giginya. Ya udah gak papa. Begitu hasilnya selesai, dia periksa gigi saya lagi dan berkata, "Wah, ada kemungkinan bakal ada satu gigi lagi yg nongol nih". Hahhhhhh? Lalu dengan senyum ramah, mbak perawat itu berkata lagi, "Ini karang giginya juga perlu dibersihin. Minggu depan ya". Ini yang paling saya nggak suka! Bersihin karang gigi! Haaaaah! Lalu nggak nyampe 15 menit duduk di kursi pemeriksaan, Mbak Perawatnya bilang, "Otsukare sama deshita. Udah selesai". Hah? Udah selesai??? Gitu doang? Saya cuma disuruh buka mulut, di-rontgent, gigi saya dielus-elus pakai alat (?), disenterin, disuruh ngaca (ya, saya disuruh ngaca! Hahaha), kumur-kumur. Selesai.

Lalu saya diminta nunggu sebentar. Kemudian, Mbak Perawat yg tadi meriksa saya bilang gini, "Minggu depan ke sini lagi ya. Hari xx jam yy. Kamu perlu dibersihin karang giginya, di-rontgent seluruh mulut, dan oh iya satu lagi. Bawa sikat gigi yang kamu pakai ya. Jangan lupa!". Bawa sikat gigi sendiri. Bau-baunya diminta latihan sikat gigi seperti yg saya baca di blog nih. Hahahaha. Dan oh iya, seperti yg sudah saya baca di blog, ke dokter gigi di Jepang itu ga cuma sekali. Apapun keluhannya. Dan perlu janjian. Hahahaha.

Minggu depannya, saya balik lagi ke dokter gigi. Agendanya adalah rontgent gigi seluruh mulut dan bersihin karang gigi. Saya datang 20 menit lebih awal dari jadwal yang disepakati. Saya pikir, saya diminta nunggu 20 menit sampai jadwal saya tiba. Etapi enggak ternyata. Begitu dateng, seperti dikomando, para perawat tsantik itu langsung meminta saya duduk di kursi pemeriksaan. Gigi saya dielus-elus lagi. Setelah itu, saya diminta untuk rontgent gigi. Karena prosedur, saya diminta untuk melepas jilbab. Yah gak papa. Perawatnya cewek semua toh ini. Nggak berselang lama, saya kembali duduk di kursi pemeriksaan. Gigi saya dielus-elus lagi. Sekejap kemudian, hasil rontgent sudah keluar. Intinya, gigi baru saya sudah besar. Dan posisinya kayak beruang rebahan (?). Tapi bukan itu yang jadi fokus perawatnya. Perawatnya menjelaskan tentang seluk beluk gigi saya secara umum, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada gigi saya (termasuk kemungkinan goyangnya beberapa gigi saya kalau nggak cepat-cepat ke dokter gigi. Oke yang ini agak serem 😮). Sepertinya sebelum masuk ke inti pemeriksaan --tentang gigi baru saya-- saya diminta terlebih dahulu untuk 'kenalan' sama gigi saya. Seperti apa gigi saya. Dan lain sebagainya. Lalu, karang gigi saya dibersihkan. Di tengah-tengah pembersihan karang gigi, dokter gigi --laki-laki-- masuk mengurus pasien lain. Posisi saya memang sedang tidak pakai jilbab pasca-rontgent itu. Saya mendengar para perawat bisik-bisik di belakang saya. Saya tahu mereka ngomongin saya. Tapi nggak tahu tentang apa. Sampai akhirnya, salah satu dari mereka berkata, "Ada laki-laki di sini. Kamu harus pakai jilbab". Waaaaaah! Malu sendiri sumpah! Hahahaha.

Oke, lanjut. Setelah karang gigi bagian bawah dibersihkan, perawat bertanya, "Bawa sikat gigi kan?". Dan seperti yang sudah saya duga sebelumnya...jeng jeeeeng. Belajar menyikat gigi! Ini serius. Nggak bercanda. Dan saya antara pengen ngampet ngguyu dan pengen serius. Perawat memberikan contoh cara menyikat gigi bagian bawah dengan benar. Gigi saya disikatin 😂. Terus saya diminta nyoba sendiri. Geli sendiri. Hahaha. Lalu saya diminta ganti sikat gigi karena sikat gigi saya 'kurang baik dan kurang enak' buat nyikat gigi, katanya. Hahahahaha. Dan setengah jam kemudian...selesai! Saya nyusun jadwal janjian lagi. Dan minggu depan diminta datang lagi....untuk bersihin karang gigi bagian atas dan belajar nyikat gigi bagian atas. 😂😂😂😂😂😂😂😂

Hingga pertemuan kedua, belum ada pembicaraan serius mengenai mau diapakan gigi baru saya ini. Semoga baik-baik saja.

(Waktu nulis ini pun masih ketawa-ketawa geli. Hahahahaha)

Senin, 25 April 2016

Dilema Kartu Nama

Sebelum kuliah sore ini, aku dipanggil International Office kampus untuk briefing  interpreter (semacam) Dinas Pertanian Prefektur Nara bagi orang Indonesia yang akan berkunjung ke Nara esok Rabu (27/4). Seperti biasa, sapaan khas orang Jepang dengan penuh basa basi, membungkuk, lalu tukar-tukaran kartu nama.

Hanya aku yang diam mematung.

Para staf sekilas melihatku seolah ada yang aneh dengan diriku karena tidak mengikuti serangkaian 'ritual' perkenalan tersebut.

Dengan beribu-ribu maaf, aku mengatakan, "Aduh saya tidak punya kartu nama".

Sebenarnya aku berbohong. Aku punya kartu nama. Indonesian version. Tapi dengan bodohnya kutinggal di Jogja. Bahkan ketika aku pulang kampung Maret lalu, untuk kedua kalinya, kartu nama itu kubiarkan saja teronggok di kamarku.

Sebelum aku pergi ke Jepang, aku selalu menyepelekan kartu nama. Buat apa? Kenapa harus bikin? Toh kalau mau minta kontak orang, tanya saja orangnya langsung, atau tanya pada kawan yang tahu kontak orang tersebut. Beres. Kartu namaku yang kuceritakan di atas pun hanya sekadar formalitas untuk keren-kerenan sebelum lulus S1. Dan dari dua kotak kartu nama yang kupunya, aku hanya pernah memberikan kepada orang lain beberapa lembar saja.

Kena batunya kan aku sekarang karena tinggal di negara yang kartu nama diidentikkan dengan identitas, simbol supaya kamu bisa diterima di suatu komunitas. Aku bahkan pernah diajarkan secara khusus cara memberi kartu nama dan cara menerima kartu nama ala orang Jepang. Serius. Tidak main-main.

Maka sesungguhnya, kartu nama bukan hanya sebagai penunjuk jati diri, tetapi juga sekaligus media: "Kalau eloh butuh guweh, eloh tahu ke mana dan bagaimana eloh cari guweh". Kartu nama adalah sebagai pembuka jaringan. Pintu masuk networking. Apalagi di negara yang memaharajakan jejaring macam Jepang ini. Maka dari itu, perlakukanlah kartu nama yang kamu terima dengan sangat hati-hati. Mungkin kamu tidak membutuhkannya sekarang, tapi siapa tahu di masa depan kamu akan membutuhkannya. Begitulah kira-kira.

Aku jadi teringat ketika aku melawat ke Tokyo bulan Desember lalu. Aku menghadiri acara welcoming party para penerima beasiswa MEXT. Orang-orang dari belahan dunia berkumpul di satu tempat, bercengkrama, berbincang, berdiskusi, atau sekadar berbasa-basi. Dan tentu saja, aku bertemu banyak mahasiswa Indonesia. Salah satunya memberikanku kartu nama. Dengan bangga ia bercerita padaku bahwa kampus tempatnya belajar saat ini sengaja (ya, sengaja!) membuatkannya kartu nama sebelum ia datang ke Tokyo. Kampusnya sadar. Bahwa ini anak bisa jadi adalah jalan pembuka bagi kampus dia (dan tentunya, dia sendiri) ke arah jejaring yang mahaluas. MEXT gitu loh. Orang yang akan kamu temui di acara itu pasti bukan orang sembarangan, mungkin begitu pikir kampusnya. Aku sedikit iri dan minder. Karena acara itu kemudian menjadi ajang bagi-bagi kartu nama (dan seluruh ruangan seolah dipenuhi kalimat, "Kalau kamu mau ke tempatku, hubungi aku ya...") dan aku cuma plonga plongo geje sambil nggumun dengan atmosfir pertemuan yang membuatku semakin menciut.

Luar biasa sekali negeri ini. Aku bahkan belajar banyak hal hanya dari kartu nama. Kartu nama ternyata bukanlah kartu biasa. Kartu mahasakti yang bisa menjadi simbol kebanggaan kita terhadap diri sendiri.

Phew. Jangan lugu-lugu banget lah, Fi. -_-